Ayahnyaadalah Sayid Ali Nurul Alam bin Sayid Jamaluddin al-Kubra. KH. Muhammad Kholil dilahirkan pada 11 Jamadilakhir 1235 Hijrah atau 27 Januari 1820 Masehi di Kampung Senenan, Desa Kemayoran, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura, Jawa Timur. Beliau berasal dari keluarga Ulama dan digembleng langsung oleh ayah Beliau. KYAIDAN PELACUR KH. Ali Yahya Lasem terkenal tampan, berbadan tegap dan atletis. Bila sarung, sorban, dan kopiahnya dibuka beliau mirip bule Eropa, Amerika atau Australia. Tak heran kalau banyak Istripertamanya adalah Nyai Hajjah Warsiti binti Abu Bakar yang lebih dikenal dengan nama Mbah Johar. Seorang wanita terpandang, puteri gurunya, K. Abu Bakar bin H. Yahya Kelewedi Ngasinan, Kebasen. Istri pertama ini kemudian dicerai setelah dikaruniai seorang anak lelaki bernama Ahmad Busyairi (wafat tahun 1953, pada usia sekitar 30 tahun). KIYAIDAN PELACURKyai haji Ali Yahya dari Lasem jawa tengah terkenal tampan, berbadan tegap dan atletis. Bila sarung, sorban, dan kopiahnya dibuka beliau mir KyaiHaji Yahya Syabrawi Ganjaran Gondanglegi Malang - Perusahaan Indonesia dengan nomor registrasi 50/31969 /AD diterbitkan pada tahun 2014. ï»żAlibin Ma'sum dilahirkan tanggal 2 Maret 1915 di Soditan, Lasem, Kabupaten Rembang pantai utara Jawa Tengah, Ali Ma'sum merupakan putera pertama dari hasil perkawinan Kyai Haji Ma'sum (yang lebih popular dengan Mbah Ma'sum) dengan Nuriyah binti Kyai Muhammad Zein. AliMaksum Halaman Pembicaraan Baca Sunting Sunting sumber Lihat riwayat KH. Ali Maksum lahir di Lasem, Jawa Tengah (02 Maret 1915 - 07 Desember 1989) . Ayahnya bernama KH. Ma'shum dan ibunya Nyai. Hj. Nuriyah. Riwayat Hidup [ sunting | sunting sumber] Ali Maksum lahir dan besar di lingkungan pesantren. KHAli Maksum merupakan ulama, tokoh NU dan pesantren pada periode tahun 1940-1989. Ulama yang akrab dipanggil dengan 'Kiai Ali' ini lahir pada tahun 1915 di Lasem, Jawa Tengah, dari pasangan ulama besar, KH Maksum Ahmad dan Nyai Hj Nuriyati. Sejak kecil, Kiai Ali tumbuh dalam lingkungan tradisi pesantren dan ketokohan NU di Lasem. Beliauseorang putra dari ulama utara jawa tepatnya kota lasem Rembang jawa tengah yaitu KH Maksum. KH Maksum sendiri juga tercatat sebagai pendiri NU bersama para kiai Hasyim Asy'ari, KH Wahab Chasbullah dan lainnya. KH Ali beberapa tahun mondok di pesantren termas pacitan setelah sebelumnya belajar pada ayahnya sendiri. KyaiHaji Yahya Cholil Staquf KH. Yahya Cholil Staquf is a distinguished Muslim scholar and co-founder of the global Humanitarian Islam movement, which seeks to recontextualize (i.e., reform) obsolete and problematic tenets of Islamic orthodoxy that may be readily weaponized to foster religious cNkhdRK. Dua atau tiga tahun yang lalu beredar cerita di media sosial. Tentang seorang kyai asal Lasem yang bernama Kyai Ali Yahya. Entah siapa yang pertama meriwayatkannya. Yang pasti kisah tersebut menunjukkan betapa bijaksananya sosok kyai kita yang satu ini. Konon Kyai Ali Yahya punya penampilan fisik yang tidak umum. Badannya tinggi tegap, wajahnya tampan. Kalau sorban atau pecinya ditanggalkan, beliau tak terlihat seperti kyai tapi bule dari Eropa. Maka tak mengherankan kalau saat itu banyak kaum Hawa yang terpesona olehnya. Suatu malam Kyai Ali Yahya bertandang ke Jepara. Jarak perjalanan dari kediaman beliau sekitar 114 kilometer. Di sebuah perempatan mobil beliau berhenti karena lampu merah menyala. Saat itulah seorang wanita muda, cantik, dan berdandan menor menghampiri. Wanita tersebut mengira pria di dalam mobil itu pelancong. Seorang bule tajir melintir yang tengah mencari kesenangan di Indonesia. Kebetulan saat itu Kyai Ali Yahya memang sedang melepas peci dan sorbannya. Baca juga Ganyang HTI Sepak Terjang Gus Muwafiq Menghadang Gerakan Khilafah “Malam, Om,” ujarnya, di dekat jendela mobil. “Malam,” jawab Kyai Ali Yahya. “Boleh ikut, Om?” “Oh, boleh, silakan!” Tanpa banyak berpikir wanita itu membuka pintu belakang dan duduk di kursi mobil. Merapikan posisinya, lalu bertanya ke mana pria-pria di depannya menuju. “Aku temenin sampai pagi ya, Om?” ujarnya. Saat itulah Kyai Ali Yahya mengenakan peci dan sorbannya. Lalu mematut-matut wajahnya di spion mobil, dan menjawab bahwa dirinya akan menghadiri acara di Jepara. “Mau ngisi pengajian,” jawab beliau, “ikut saja, gak apa.” Wanita itu geragapan. Tak menyangka pria yang digodanya adalah seorang ulama. Wajahnya tak bisa menutupi rasa takut. Ingin rasanya tiba-tiba menghilang saat itu juga. “Maaf, Pak Kyai, saya tidak tahu. Saya turun di sini saja,” pintanya. “O, gak apa-apa, Mbak. Sekali-kali ikut pengajian kan bagus.” “Saya turun di sini saja 
” “Lho gak bisa, Sampeyan tadi kan bilang mau ikut!” “Tapi saya kan gak pakai jilbab.” “Gampang, nanti pinjem jamaah.” “Tapi saya malu, Pak Kyai.” “Mbak,” ujar Kyai Ali Yahya, “Sampeyan jadi wanita penghibur gak malu, ini ikut pengajian kok malu?” Dan wanita itu pun akhirnya pasrah. Baca juga Silaturahmi Gus Dur Dari Orang Pinggiran Sampai Kyai Besar Mobil terus berjalan menuju Jepara. Begitu tiba di tempat tujuan jamaah sudah memadati lokasi pengajian. Sebelum turun, Kyai Ali Yahya memanggil panitia wanita dan meminta jilbab. “Bu Nyai lupa gak pakai jilbab,” kata beliau. Tentu saja aneh. Mana ada istri kyai menghadiri pengajian tapi lupa memakai jilbab? Tapi kebingungan di kepala panitia itu tak dihiraukannya. Apalagi yang meminta adalah kyai undangan. Ia bergegas mencari pinjaman jilbab, tanpa banyak bicara. Setelah turun dari mobil, Kyai Ali Yahya dan wanita itu dijamu tuan rumah. Keduanya duduk di ruangan yang terpisah. Kyai Ali Yahya di ruang depan, wanita itu di ruang belakang. Kyai Ali Yahya lalu sibuk berbincang dengan tuan rumah. Tenggelam bersama jamaah lain dalam percakaan seputar hajatnya. Sementara wanita penghibur itu cemas luar biasa. Seumur-umur baru kali itu ia hadir di pengajian. Sebagai “bu nyai” pula! Ia diperlakukan bak seorang ratu. Diajak berbincang. Dipersilakan menikmati hidangan. Tak seorang pun tahu wanita itu biasa menjajakan dirinya di perempatan jalan. Menggoda pria-pria hidung belang yang melintas dan menawarkan jasa kepada siapa pun yang kesepian. Singkat cerita pengajian Kyai Ali Yahya selesai dan rombongan dari Lasem itu bersiap pulang. Tuan rumah berkali-kali mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka. Jamaah pria di ruang tamu lalu meminta Kyai Ali Yahya memanjatkan doa. Agar keberkahan Allah limpahkan pada mereka dan keluarganya. Jamaah wanita tak mau kalah. Ada “bu nyai” di dekat mereka, apa salahnya meminta barakah doa? Saat itulah sebuah gempa mengguncang hati wanita itu. Tak kuasa ia menolak permintaan sang tuan rumah, sebab kadung diamini oleh para jamaah yang lain. Tapi apa yang bisa ia baca, sebab bahkan salat saja entah kapan terakhir ia kerjakan. Beruntung. Di saat-saat kritis itu sebuah doa dari masa kecil tebersit di kepalanya. Buah ajaran orangtua dan guru mengajinya. Maka tanpa banyak bicara, doa pendek itulah yang ia rapal. Disambut “amin-amin” jamaah yang mengelilinginya. Kyai Ali Yahya lalu memberi kode. Tanda keduanya harus segera beranjak. Jamaah pria pun mengantar beliau hingga ke samping mobil. Begitu pula jamaah wanita, melepas sang “bu nyai” itu hingga ke pinggir jalan. Baca juga Negara Islam Komentar Gus Dur tentang Imajinasi Muslim Garis Keras Kyai Ali Yahya menyalami jamaah pria, lalu mengucapkan salam pamit. Tak mau ketinggalan, wanita penghibur itu juga berpamitan. Tapi tak disangka, jamaah wanita berebut menyalaminya. Mengembangkan senyum tulus di wajah mereka, lalu menciumi tangannya. Gempa susulan yang tak kalah dahsyat mengguncang hati wanita itu. Dalam perjalanan pulang, tak ada suara terdengar dari dalam mobil. Kyai Ali Yahya diam seribu bahasa. Sementara sang supir tampak awas melihat ke depan. Di kursi belakang, wanita penghibur itu tak sudah-sudah menangis sesenggukan. Entah apa yang ada di pikirannya. Sumber foto ï»żMonuments et sites remarquables ‱ Sites religieuxĂ  proposDurĂ©e conseillĂ©eUne Ă  deux heuresCircuits et expĂ©riencesParcourez diffĂ©rents moyens de dĂ©couvrir cet rĂ©gionLe meilleur dans les environs1 821 dans un rayon de 5 km257 dans un rayon de 10 kmDominiqueMarly-le-Roi, France476 contributionsjanv. 2020 ‱ En coupleTres jolie mosquĂ©e au bout d une jetĂ©e avec beaucoup de pelerins, le tout dans une ambiance bon enfant. Des marchands de pacotilles sur le trajet mais sans sollicitations excessives, et tout au bout, sous la mosquĂ©e on peut "gambader" dans les rochers un peu sportif quand mĂȘme et aller jusqu'Ă  la mer dans une joyeuse ambiance. Écrit le 9 janvier 2020Cet avis est l'opinion subjective d'un membre de Tripadvisor et non l'avis de Tripadvisor LLC. Les avis sont soumis Ă  des vĂ©rifications de la part de France282 contributionsdĂ©c. 2018 ‱ En famillelieu qui grouille de monde, odeurs horribles, on nous a dit de faire attention car lieu dangereux donc on Ă©tait sur le qui-vive, et finalement on n'est mĂȘme pas allĂ© jusqu'Ă  la mosquĂ©e, l'environnement gĂąchant le 4 janvier 2019Cet avis est l'opinion subjective d'un membre de Tripadvisor et non l'avis de Tripadvisor LLC. Les avis sont soumis Ă  des vĂ©rifications de la part de KQuimper, France9 008 contributionsavr. 2018 ‱ En solo"Haji Ali Dargah" se trouve sur un lieu atypique pour ce genre de bĂątiment religieux. Elle se trouve au bout d'une jetĂ©e de plusieurs centaines de trĂšs le 5 septembre 2018Cet avis est l'opinion subjective d'un membre de Tripadvisor et non l'avis de Tripadvisor LLC. Les avis sont soumis Ă  des vĂ©rifications de la part de AIstres, France147 contributionsmars 2018 ‱ En soloelle est construite sur un ilot situĂ© Ă  1 km de la cĂŽte. Ajouter encore 300 m de parking et la traversĂ©e de la rue menant au dĂ©but de la bande de terre dĂ©couverte Ă  marĂ©e basse et vous aurez idĂ©e de la distance Ă  marcher sous les regards curieux des pĂ©lerins car en mars il y a trĂšs peu de touristes ne peut donc y aller qu'Ă  marĂ©e basse parmi les Ă©choppes... ah oui on vous propose de vous peser contre quelques roupies.... je n'avais encore jamais vu cela !La mosquĂ©e en elle mĂȘme est assez jolie et des photographes vous sollicitent pour vous prendre une photo et vous la contre c'est trĂšs sale, des dĂ©tritus jonchent le sol.... mais c'est Ă  voirÉcrit le 27 mars 2018Cet avis est l'opinion subjective d'un membre de Tripadvisor et non l'avis de Tripadvisor LLC. Les avis sont soumis Ă  des vĂ©rifications de la part de 2017Rien que la traversĂ©e jusqu'Ă  la mosquĂ©e vaut le bout de jetĂ©e, elle n'est accessible qu'Ă  marĂ©e basse. A le 13 fĂ©vrier 2017Cet avis est l'opinion subjective d'un membre de Tripadvisor et non l'avis de Tripadvisor LLC. Les avis sont soumis Ă  des vĂ©rifications de la part de 2017 ‱ En soloC'est Ă  premiĂšre vue un joli spectacle que cette mosquĂ©e devant la mer. De la route, elle produit un effet prĂšs C'est autre chose et la saletĂ© rĂ©gnante y est pour beaucoup. Écrit le 31 janvier 2017Cet avis est l'opinion subjective d'un membre de Tripadvisor et non l'avis de Tripadvisor LLC. Les avis sont soumis Ă  des vĂ©rifications de la part de 2016 ‱ En familleJ'ai dĂ©couvert la mosquĂ©e le matin trĂšs tĂŽt en arrivant Ă  Bombay. L'image Ă©tait magnifique, il flottait une petite brume et on aurait dit que la mosquĂ©e flottait sur l'eau. Nous avons donc dĂ©cidĂ© de nous y rendre mais Ă  marĂ©e basse, la vue est beaucoup moins idyllique. La mer une fois retirĂ©e laisse apparaitre toutes sortes de dĂ©tritus et la mosquĂ©e est finalement assez mal en le 19 juin 2016Cet avis est l'opinion subjective d'un membre de Tripadvisor et non l'avis de Tripadvisor LLC. Les avis sont soumis Ă  des vĂ©rifications de la part de 2016 ‱ En coupleRien de particulier. Une mosquĂ©e au milieu de la mer est le seul point Ă  retenir. Pas beau de l'intĂ©rieur comme Ă  l' le 6 mai 2016Cet avis est l'opinion subjective d'un membre de Tripadvisor et non l'avis de Tripadvisor LLC. Les avis sont soumis Ă  des vĂ©rifications de la part de 2016 ‱ En solola mosquĂ©e est petitebeaucoup de recueillementles "marchands du temple" vous accompagnentle lieu est surprenantmais Ă  l'entrĂ©ede la digue, il y a le premier fast food d'indeil est genialles jus de fruits sont les meilleursÉcrit le 2 mai 2016Cet avis est l'opinion subjective d'un membre de Tripadvisor et non l'avis de Tripadvisor LLC. Les avis sont soumis Ă  des vĂ©rifications de la part de France93 contributionsfĂ©vr. 2016Il faut parcourir le long d'une digue pour se rendre Ă  la y a beaucoup de monde et de marchands dont les stands sont installĂ©s sur pilotis. De façon surprenante, on voit certains commerçants agripper des musulmans pour les faire forcer Ă  acheter quelque pas concernĂ©s, nous avons pu avancer sans le trajet, on s'interroge beaucoup sur les estropiĂ©s qui sont prĂ©sents et particuliĂšrement lorsqu'il y a de jeunes enfants...La mosquĂ©e en elle-mĂȘme est actuellement en rĂ©novation. C'est un lieu intĂ©ressant Ă  visiter qui offre par ailleurs un joli point de vue sur le 11 mars 2016Cet avis est l'opinion subjective d'un membre de Tripadvisor et non l'avis de Tripadvisor LLC. Les avis sont soumis Ă  des vĂ©rifications de la part de affichĂ©s 1-10 sur 292 Yahya Cholil Staquf serves as General Chairman of the Nahdlatul Ulama NU, or “Awakening of Scholars” Central Board. As the world’s largest Muslim organisation—with over 90 million members and 21,000 madrasahs—the Nahdlatul Ulama adheres to the traditions of Sunni Islam, and teaches that the primary message of Islam is universal love and compassion. Personal Education Mr. Staquf is descended from a long and illustrious line of Javanese ulama and was educated from earliest childhood in the formal and esoteric spiritual sciences of Islam, Mr. Staquf later became a disciple of venerated Islamic scholar and head of the NU Supreme Council, KH. Ali Maksum 1915–1989, and of long-time NU Chairman and Indonesia’s first democratically elected head of state, KH. Abdurrahman Wahid 1940 – 2009. Head of Expansive Network The Nahdlatul Ulama boasts an expansive network that covers 30 regions with 339 branches, 12 special branches, 2,630 rep­resentative councils and 37,125 sub-branch repre­sentative councils across Indonesia. This network practices the doctrine of Ahl Al-Sunnah wa Al-Jama’a, meaning “people of the Sunnah practices of the Prophet Muhammad and the community”. They base their practices on the traditional sources of Islamic jurisprudence—mainly the Qur’an, ha­dith, and major schools of law. Among its aims are the propagation of Nahdlatul Ulama’s message and also an expansion of its already extensive network of members in Indonesia. This is the basis of many of the organisation’s social reform efforts. With a solid structure of central and regional boards, branch and special branch boards, and various advisory coun­cils, Staquf sits at the top of this influential Sunni movement. Model of Traditionalism With a mainly rural membership base, the Nahdlatul Ulama distinguish­es itself from other Islamic organisations in Indonesia by positioning itself as a premier organisation of tra­ditional Islam—with an emphasis on education and political engagement based on Islamic principles. Social Service The Nahdlatul Ulama has made substantial charitable contributions to Indonesian society in the fields of educational development, healthcare, and poverty alleviation. Staquf, like his predecessors, propagates the Nahdlatul Ulama as an organisation that is geared toward establishing a secular nation-state based on a body of modern and moderate Muslims—with agenda items such as an­ti-corruption laws and social reform measures that are deeply rooted in Islamic principles. Advisor Staquf also served on HE President Joko Widodo’s Presidential Advisory Council, where he advised the President on religious, domestic and international affairs. Staquf co-founded the US-based organisation Bayt ar-Rahmah li ad-Dawa al-Islamiyah Rahmatan li al-Alamin The Home of Divine Grace for Revealing and Nurturing Islam as a Blessing for All Creation, and the Center for Shared Civilizational Values in 2021, both to serve as hubs for the expansion of Nahdlatul Ulama operations in North America, Europe and the Middle East.